Senin, 24 Juli 2017

Depresi (?) , based on Oka and Chester's story.

Seminggu terakhir ini Indonesia dikejutkan dengan 2 kasus besar mengenai dugaan bunuh diri.
Yang pertama adalah Chester, vokalis Linkin Park yang benar-benar cukup menghebohkan dunia. Dan yang kedua adalah Oka Mahendra Putra. 

Yang kedua ini sebenarnya memang bukan public figur. Tapi hubungannya di masa lalu yang notabene adalah mantan pacar dari Karin Novilda alias Awkarin cukup  membuat dia terkenal.
Selebgram kontoversial ini membuat berita tentang kematian Oka menjadi lebih banyak dicari di seluruh media sosial.
Selain mantan pacar dari Awkarin, Alm Oka juga merupakan CEO dari Takis Entertaiment yang juga merupakan agensi yang kemaren sempat menaungi Awkarin.

Yang mau saya bahas disini adalah latar belakang yang menyebabkan kedua nama diatas meninggal dunia.
Depresi.
Ya, depresi.

Kalo kalian searching berita tentang keputusan Chester buat gantung diri, kalian pasti nemuin banyak artikel mengenai dugaan alasan kenapa dia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pada umur 11 taun orang tuanya bercerai dan dia mengalami pelecehan seksual. Dia sempat ketergantungan narkoba dan pecandu alkohol. Dua bulan sebelum dia mutusin bunuh diri, sahabatnya juga bunuh diri. 
Kita ga pernah tau apa yang dihadapi seseorang sampe dia mutusin untuk melakukan hal itu. Dilihat dari ceritanya saja saya uda bisa bayangin gimana kerasnya kehidupan dia dulu.
Meskipun dia terkenal, punya banyak penggemar, punya banyak teman (mungkin), kita ga pernah tau masalah apalagi yang dia hadapi saat ini. Entah benar atau engga, menurut saya orang yang pernah menerima hal buruk di masa lalu bisa menjadi "sangat sesuatu" ketika mengalami depresi lagi. Bisa jadi "sangat" kuat menghadapi masalah berat yang baru, atau bisa "sangat" jatuh ketika mengalaminya lagi.
Dan mungkin traumatis Chester di masa lalu membuat depresinya yang baru saat ini menjadi lebih parah hingga dia memutuskan untuk bunuh diri. We never know it. Kita ga pernah tau apa yg dia rasain. 

Kasus kedua mengenai Oka Mahendra Putra. Sampe saat ini saya searching beritanya, saya masih belum yakin apa penyebab sebenarnya Oka meninggal. Ada yang bilang bunuh diri karena minum sianida, dan ada juga yg bilang meninggal karena tubuhnya sudah ga tahan lagi dengan depresi yang dia alami.
Entah gimana saya lebih percaya dengan yang kedua. 
Walaupun penyebab yang pertama juga tentu saja disebabkan karena depresi.

Tapi apa penyebab Oka bisa depresi?
Itu yang sampai saat ini ramai dibicarakan.
Latar belakang keluarga Oka cukup baik. Dia bukan dari keluarga broken home, keluarganya pun cukup berada, bahkan mungkin kaya. Dia juga sempat kuliah di luar negeri, dan itupun cukup mengagumkan buat saya.

Spekulasi mulai bermunculan di sosial media.
Awkarin, sebagai mantan pacarnya mengeluarkan statement seolah olah Oka depresi karena Takis collapse dan hubungannya yang buruk dengan mantan karyawan maupun partnernya di Takis, Young Lex.
Saat awkarin berstatment seperti itu, netizen langsung memburu Young Lex dengan kata-kata cacian seperti pembunuh dan semacamnya.
Begitu mudahnya media terpancing akan satu statement yang kita sendiri masih belum yakin kebenarannya.

Sesaat setelah Karin mengeluarkan statement tersebut, mucul teman-teman Oka yang mengeluarkan statement sebaliknya. Bahwa Karin lah penyebab depresi Oka yang utama. 
Bahkan teman-teman Oka di Seattle mulai mengeluarkan statement yang sama.

Dari semua berita yang saya baca, saya melihat bahwa sebenarnya Oka adalah orang yang cerdas. Dia punya banyak teman. Dan memang pintar mengelola bisnis.

Mungkin kita ga akan pernah tau apa yang benar-benar dirasain Oka. Entah karena collapse, Karin, ataupun Young Lex. Yang pasti dia pernah menjadi korban bullying di media sosial ketika Takis mulai bangkrut dan Karin mengeluarkan statement yang menyudutkan dia.

Logika depresi dari 2 cerita diatas cukup jauh berbeda.
Chester mengalami depresi sejak kecil.
Dan Oka sepertinya baru-baru saja mengalami depresi, namun mungkin sangat buruk.
Mental setiap orang ketika menerima masalah berbeda-beda menyikapinya. Ada yang cukup kuat bertahan, dan ada yang akhirnya terjatuh.

Apapun itu, depresi merupakan masalah yang cukup krusial saat ini.

Saya pernah baca entah penelitian mana, 1 dari 4 orang pernah mengalami depresi. Mungkin saya juga pernah ngerasain hal seperti itu. Saat dimana saya cukup muak dengan masalah yang menimpa saya. Tiba-tiba ingin menangis dan hanya ingin berdiam sendiri di kamar.
Tapi saya rasa itu masih berada dalam tahap yang wajar.

Ada salah satu teman saya yang mengalami depresi sedikit parah ketika masih kecil. Keluarganya masih utuh, namun sangat tidak harmonis. Dia sama sekali tidak pernah merasakan kebahagian keluarga yang harusnya dirasakan anak seusianya. Hingga akhirnya dia memutuskan menyakiti dirinya sendiri dengan menyilet-nyilet tangannya dan melukai bagian bagian tubuhnya yang lain. 
Ketika itu dia masih SD.
Bisa dibayangin, anak sekecil itu sudah bisa melakukan hal yang seperti itu.


Depresi  sama sekali bukan masalah sepele.
Cukup empati.
Itu yang dibutuhin.

Kita ga bisa asal menjudge keputusan seseorang tanpa tau latar belakangnya. Bahkan jika kita tau latar belakangnya pun, kita ga benar-benar tau apa yang dia rasain.
Stop kasih bad comment tentang keputusan mereka. Itu aja. 

Cukup berpegang pada satu hal :
"lakukan apa yang ingin orang lakukan ke anda"





















Minggu, 19 Februari 2017

Milea dan TemanTapiMenikah

Gatau sebenernya mau cerita apa..
Ini baru ngantor lagi setelah Dinas Luar hampir 20 hari. Lumayan hectic karena kebetulan penyelenggara salah satu kegiatan kemaren ada di tim Program Seksi dan Informasi yang notabene ada di seksi gue. 
Dinas luar di Makassar 10 hari, Solo - Katen 4 hari, trus lanjut ke Bogor 3 hari. Ga ada jeda buat stay di kantor bareng sehari.
Soal ini sih gue nyaman - banget-
Udah jadi karakter utama Sagitarius kali ya kalo suka jalan-jalan, dan gue menikmatinya.
Mulai ga betah kalo kudu lama-lama di kantor, huehehe.


Bukan soal kerjaan yang lagi pengen gue bagi disini, tapi tentang dua buku yang beberapa hari terakhir ini gue baca. Milea nya Pidi Baiq sama Teman Tapi Menikah nya Ayudia Bing Slamet bareng suaminya, Ditto Percusiion.
Whoaaa... dua buku yang cukup ringan tapi daleeeeeem. Setidaknya menurut gue.



MILEA

Penyuka Dilan pasti tau novel apaan ini. Milea adalah buku ketiga dari serial Dilan 1990 dan Dilan 1991. Meskipun banyak review dari orang-orang kalo buku terbaik Pidibaiq masih di Dilan 1990, bagi gue buku ketiga ini justru yang paling penting. Satu-satunya yang bisa bikin gue beneran netesin air mata dibanding dua buku sebelumnya.
Semua orang mungkin bakal jatuh cinta dengan sosok Dilan di kedua buku sebelumnya. Sudut pandang Milea bener-bener sukses meenggambarkan Dilan versi Milea. Seolah-olah kita setuju kalo Dilan itu....sempurna versi unik.
Di  buku ketiga ini kita melihat kisah Dilan Milea dari sudut pandang Dilan. Lebih kepada klarifikasi-klarifikasi oleh Dilan mengenai kesalahpahaman yang banyak terjadi di Dilan 1991. Tapi di buku ini, gue ngerasa lebih ngerti siapa Dilan. Dilan yang mungkin pernah dimiliki Milea - Milea di luar sana.

Bahwa Dilan itu cuma cowok biasa yang mencintai satu perempuan, tapi sadar  bahwa dunianya tidak melulu tentang perempuan itu. 
Bahwa Dilan juga cowok biasa yang selalu menarik kesimpulannya sendiri. Yang menganggap bahwa dirinya tidak mungkin dicintai sebegitu hebat oleh sesosok Milea.
Bahwa Dilan yang sepertinya ada di banyak sosok laki-laki di dunia ini. Selalu membuat pemakluman akan dirinya sendiri. Sedikit lebih ke pesimistis. Ketika melihat orang yang masih disayanginya sudah jalan dengan orang lain, keinginan untuk masuk lagi dibuang jauh-jauh. Padahal kenyataannya mungkin perempuan yang masih disayanginya tidak benar-benar bersama orang lain. Atau sebenarnya perempuan itu juga ingin ditarik keluar oleh sosok seperti Dilan di hidupnya.

Rumit?
Hahaa. Gue aja sih yang belibet.

Kontradiktif banget dengan novel yang abis ini gue ceritain.
Pelajaran yang bisa diambil buat adek-adek yang baca novel ini (ceileeh adek-adeek), do what you wanna do... say what you wanna say.
Jangan sampe telat.
Komunikasi itu penting. Walau udah putus, tapi masih sayang, ga ada salahnya nanyain lagi perasaan atau keadaan mantan kita. Inget, kalo emang masih sayang yaa. Jangan sok sok gengsi dan menarik kesimpulan sendiri.

Tenang, gue ga punya mantan pacar yang kayak Dilan kog. Hahaa. Kalopun ada, ga bakal gue lepas juga kali. Hehe. Gue juga beda banget sama Milea.  Gue tipikal yang selalu berani ngomong kalo gue emang masih sayang. Dan kisah hidup gue engga kayak Dilan Milea, yang harus pisah (tapi masih sayang) cuma gara-gara salah paham.
Tapi gue kayaknya punya temen deh yang mirip Dilan. Haha. Yang selalu merasa 'yaudahlah gue mah siapa, doi udah jalan sama orang lain' atau 'yaudahlah, doi kayaknya punya cowo lain, gausa diganggu' padahal mungkin sebenernya si cewek juga nunggu untuk dideketin.
Kadang suka kesel sendiri sama orang-orang macem gini, yang gamau fighting atau telaaat berjuang buat perasaannya sendiri.


Kesimpulannya, Milea itu buku penting buat fans beratnya Dilan. Karena Dilan ituuu (kalopun doi nyata) cuma manusia biasa. Hehe.


#TemanTapiMenikah

Whoaaa..novel yang ini beneran kayak dongeng. Cerita nyata yang kayaknya jadi idam-idaman banyak orang. Sahabatan 12 taun dan ujung-ujungnya nikah. Kurang romantis apa coba?
Si Ditto nya juga tipikal yang banyak disukain cewe-cewe, supel dan cuek. Oke kalo soal cuek sih banyak cewek yang ga terlalu demen sama tipe kayak gini. Tapi buat gue, idamaaan!!! Hahaha. Abisnya gue juga cuek, mirip kek si Ucha.

Kenapa gue suka tipe-tipe cuek macem Ditto?
Karena gue tau, orang cuek itu sebenernya care banget ke satu orang yang dia sayang. Cuma emang bentuk care nya kadang sederhana banget. Bahkan dianggap ga penting buat orang lain. Misalnya bikinin mie rebus pake heater waktu orang yang disayangnya sakit. Sederhana kan? Padahal romantis. Pake heater soalnya ga ada kompor, dan ujan deres jadi gabisa beli makan di luar. Hehe. Misalnya gitu.

Orang-orang cuek itu biasanya pinter nyembunyiin perasaan. Pinter nyembunyiin perasaannya ke orang yang sebener-benernya dia sayang dengan belagak suka sama orang lain. Ditto tu parah banget. Haha. Pacaran 4taun sama cewe lain tapi jauh di dalem hati masih nyimpen rasa sayangnya buat Ucha. Kamvrt emang.

Orang cuek itu mungkin mirip kayak gue. Sebenernya punya "dunia" sendiri di pikiran kita. Tempat dimana gue bebas mau mikirin apapun. Gue ga terlalu ambil pusing sama perasaan orang lain ke gue. Kadang gitu sih. 
Tapi secuek-cueknya orang cuek pasti bisa jujur sama perasaannya. Walau kadang mesti udah jujur, belum tentu hidupnya mengikuti kejujuran itu. Gilak gilak gilak gue bahasanya. 

Dan kerennya kisah ini adalah...
Ditto berani ngungkapin semuanya ke si Ucha. Bisa dibilang telat. Tapi telat yang tepat. Mungkin 
kalo Ditto nembaknya pas SMA atau malah pas SMP belum tentu juga mereka bisa nikah sekarang. 
Karena setau gue banyak orang yang akhirnya menikah bukan dengan "The One" nya mereka. Ga papa sih mungkin, tapi pasti sedikit sedih aja kalo mesti ada yang disesali dikemudian hari hanya karena ga berani berjuang dengan apa yang bener-bener mereka pengenin.

Baper? Iye!
Bukan karena gue punya sahabat yang pengen gue nikahin sih. Gue punya 2 sahabat cowok, Adit sama Ang. Suka-sukaan emang pernah. Tapi ga kepikiran juga sih buat nikahin orang orang sebaik mereka. Hahaha. Kasian abisnya kalo mereka nikah ama gue. Gue mah apa.
Bapernya cuma karena kisah Ditto Ucha tuh gokil banget. Sometimes kalo kita baca buku atau nonton film, pasti sedikit banyak kita ngebandingin diri kita dengan tokoh di dalamnya. Dan seolah-olah kita pengen seberuntung kisah itu. Disinilah gue baper.
Keren aja tuh kalo si Ditto sm Ucha cerita ke anak cucu mereka soal hubungan mereka. Yang ga kenal mereka aja bisa iri. Etdah.

Kesimpulannya, gue iri. Itu aja sih. HAHAHAHA.


Minggu, 29 Januari 2017

2017 = Saya baru mengenal saya

Sebelum bercerita, saya cuma mau kasih tau kalau sekarang jam uda menunjukan pukul 01.55 WITA. Ga penting sih, tapi kali aja penasaran.

Dan buat lebih mendramatisir keadaan lagi saya mau bilang kalau hari ini hari Senen, yang berarti beberapa jam lagi seharusnya saya udah baris rapi buat apel pagi di kantor dan dilanjutkan dengan melanjutkan ke-hectic-an minggu kemaren tentang kegiatan modul dan SKP! (oh oke, bahas ini aja saya udah mulai bete). DAMN.

Oke, gapapa.

Seharusnya ini luar biasa loh. Seharian kemaren saya ga tidur dan malam ini saya belum ngantuk sama sekali. Wuhuu... saya berhasil insomnia.
Katanya penelitian (katanya loh ya, entah bener atau engga), orang-orang yang tidak bisa tidur di malam hari pasti kepalanya dipenuhi banyak ide (atau menurutku sih lebih tepatnya: pikiran. iya. banyak pikiran)
Seperti saya sekarang ini.

Beberapa jam yang lalu, atau lebih tepatnya 2 jam yang lalu tiba-tiba pikiran saya terlintas tentang sesuatu hal yang sampai 2 jam yang lalu belum pernah saya sadari. Hal yang kmvrt abis.
Yang bikin saya sadar bahwa selama ini saya ga kenal diri saya yang sebenernya.
Selama ini saya hanya berusaha mengenal diri saya sendiri tanpa bener bener tahu yang sebenernya. Oke ini mulai lebai.
Latar belakang kenapa tiba-tiba saya bisa sadar gausa dibahas disini. Ada perkara yang boleh disimpan aja sendiri, atau mungkin bisa dibagi disaat yang tepat nantinya.

Kesadaran apa ini sebenernya?

Hmmmhh....*menghela nafas.


Yah, saya baru sadar kalo selama ini saya hidup sebagai seorang penakut. Seorang penakut yang takut membuat orang lain kecewa, terutama orang disekitar saya.
Klise yah?
Eits, tunggu...Jangan menghakimi dulu.
Dulu, waktu saya kelas satu SMA, saya belum sepenakut ini. Bahkan waktu saya SMP, saya sangat berani. Berani untuk tidak peduli entah orang-orang di sekitar saya akan kecewa dengan saya atau tidak.

Waktu SMP (sombong dikit yah), saya selalu juara kelas. Dari kelas 1 sampe kelas 3. Ga pernah engga juara 1. Bahkan lulus dengan peringkat pertama dan satu-satunya siswa yang bisa masuk ke SMA terfavorite di kota saya.
Waktu SMP saya justru pengen membuat orang lain kecewa. Lebih tepatnya ke nenek saya. Simpel sih, supaya saya bisa dibalikin aja ke Bandung.. tinggal kembali sama mama papa ade dan keluarga besar Bandung lainnya. Biarin lah sekolah di swasta juga, swasta yang terjelek pun gapapa. Asal di Bandung. Kota kelahiran saya. Kota terkeren buat saya sampai saat ini.

Saya yang SMP jarang banget ngerjain Peer.
Belajarnya kalo mau ujian sekolah doang.
Kalo sekolah baju dikeluarin (itu uda versi nakal buat saya).
Saya pernah tindik kuping, biar gaul (katanya).
Saya gabung sama genk yang disebelin sama kakak tingkat (tapi tetep aja saya ga pernah dilabrak atau dibully, padahal temen2 se-genk hampir pernah ngerasain dilabrak).
Kuku saya panjang-panjang (sampe sekarang ini mah).
Saya juga pernah bolos, bolos pelajaran doang, buat makan di kantin. Pelajaran Geografi kalo ga salah, gurunya baik sih.. ngebolehin. Haha.
Pernah pake iket pinggang gede ala Agnes Monica (gaul beut pada jamannya) dan dicegat sama guru Biologi dan diambil iket pinggangnya (lupa nama ibu guru nya, tapi kerenlah masih inget beliau guru mata pelajaran apa)
Saya yang SMP pengen nakal tapi selalu gagal.
Saya yang SMP belum kenal pacaran.
Saya yang SMP suka sama 1 orang selama 3 tahun dan ga pernah diungkapin langsung ke orangnya. Haha. Jebule dari SMP aku udah pinter mencintai diam-diam.
Saya yang SMP ga pernah ciuman ama cowok. Ga kayak anak jaman sekarang. Boro2 ciuman, pegangan tangan aja ga pernah. Pacaran aja ga pernah. Cupu banget. Hahahaha.
Saya yang SMP tiap hari selalu maen. Maen layangan, maen bola, maen apapun. Tapi selalu inget pulang sebelum magrib.
Saya yang SMP berharap ga dapet ranking dengan menjadi nakal dan ga pernah ngerjain peer. Tapi tetep aja gabisa, gagal.. ga bakat kali ya.

Yaaah begitulah... saya SMP pengen ngecewain orang-orang tapi ga pernah berhasil. Bukannya takut, tapi gabisa. Susah sihh jadi orang pinter. Hahaha (silakan muntah)

Waktu kelas 1 SMA, saya mulai pacaran. Tapi masih ga peduli dengan tingkah laku saya yang mungkin akan mengecewakan orang lain. Soalnya mama papa masih di Bandung kalo ga salah. Karena dulu prinsip saya, saya ga peduli sama siapapun.. asal jangan buat mama papa kecewa. Tapi karna mama papa masih di Bandung, dan di kota saya tinggal saya tidak pernah merasa nyaman jadi ya cuek cuek aja, orang lain kecewa sama saya..itu urusan mereka! Ugh, sadis.


Ini yang baru saya sadari beberapa jam yang lalu. Ternyata awal dari kepribadian remaja saya dimulai dari sini.

Waktu kelas 1 SMA saya pacaran dengan -sebut saja Mawar- eh, jangan, saya ga lesbi -sebut saja Sinichi Kudo-
Kita jadian pas saya baru masuk SMA dan dia baru aja masuk Kuliah. Iya, kita beda 3 tahun. Sebut aja nama kota tempat dia kuliah adalah Solo. Da emang beneran Solo nama kotanya. Hehe. Garing.
Kota Solo cuma sebelahan sama kota tempat saya tinggal. Jadi doi tiap weekend bisa pulang dan ngapel ke rumah.
Baru pertama kali pacaran aja udah LDR. Iyah, aku mah setrong. Haha. Kita cuma sms/telpon2an dan tiap seminggu atau 2 minggu sekali kita ketemu. Dia ngapel pas malem minggu.
Hubungan kita cuma bertahan 2 bulan. Gausah tanya kenapa. Soalnya saya tetep bakal ngasih tau. Hehe.
Saya yang mutusin. Edan yah? Wanian. Haha.
Menurutku berani mutusin seseorang adalah hal paling berani dalam suatu hubungan. Kenapa saya bisa bilang gitu? Lanjut aja baca ceritanya.
Saya mutusin dia karena saya yang masih labil. Saya iri sama temen2 SMA yang tiap hari ketemu pacarnya atau dianter jemput pacarnya. Ehm.. saya mau sombong lagi dikit. Gini gini saya juga banyak dikenal sama kakak kelas. Dan disaat itu ada gelagat kakak kelas yang sepertinya mau ngedeketin saya. Hehe.
Waktu saya mutusin dia, saya gatau kalo bakal ngebuat orang tersebut sangat kecewa. Mutusin tanpa alesan itu adalah hal paling sulit di dunia per-pacaran.
Mungkin dia orang pertama di sekitar saya yang benar-benar saya kecewain.
Dulu waktu SMP saya sering ngecewain cowo2 juga sih, dengan nolak mereka pas nembak saya. Tapi saya ga peduli. Mereka kan orang lain. Bukan orang yang saya sayang atau pernah saya sayang.
Dia orang yang baik. Ga pernah ngecewain saya. Kita hampir ga pernah berantem. Jadi tau kan saya sejahat apa waktu itu mutusin dia?

Mungkin sejak saat itu.. sejak saya tau dia sangat kecewa dengan keputusan saya, diri saya sepertinya berjanji untuk ga akan pernah ngelakuin hal semacam itu lagi. Meninggalkan tanpa sebab itu menyakitkan.

Yang tadi beberapa jam lalu saya sadari -dan lumayan kaget plus heran-, sejak putus dengan Sinichi, saya pacaran lagi 7x sampe akhirnya menikah. Dan saya tidak pernah minta putus. Gila ya? HAHAHA.
Jadi intinya, saya yang selalu diputusin. Ditinggalin. Dicampakin. HA-HA-HA.
Oke, mungkin dengan pacar saya yang kedua, sebut aja Cumi, mungkin dengan doi saya pernah bilang putus... tapi karena memang ada masalah besar, dan itu kesepakatan untuk putus. Tapi bukan yang putus beneran sih. Putus yang untuk balikan. Jadi bukan saya yang meninggalkan.
Saya lupa sih waktu sama Cumi siapa yang sebenernya minta putus. Kita putus nyambung berkali-kali. Dan setelah putus kita malah deket banget kayak Sodara. Sampe kadang saya aja heran kalo saya pernah pacaran sama si Cumi. Ingatan saya sama dia justru pas kita deket sebagai sodara, sehabis kita putus.

Dan mungkin satu lagi, dengan pacar saya yang ke...ehmm..6 apa 7 yah? Soalnya sama yang ini -sebut saja Odong- kita pernah pacaran, putus, lalu saya pacaran dulu sama orang lain dan akhirnya balikan lagi sama dia. Gausa ditanya berapa kali putus nyambung. Banyak! Saya ampe lupa. Dan mungkin saya juga pernah turut andil dalam mengucapkan kata putus. Tapi ya gitu, karena ada masalah besar biasanya. Saya ga pernah punya niat ninggalin dia. Sama sekali. Bahkan kalo mau jujur, saya ngomong putusnya engga bener-bener pengen putus waktu itu. Persis seperti Milea ke Dilan.
Tapi seingetku sih, dia yang lebih sering minta putus. Atau mungkin emang dia yang selalu minta putus. Bahkan sampe akhirnya kita bener-bener putus.

Mungkin orang lain punya cinta pertama di pacar mereka yang pertama, kalo saya sepertinya bukan.
Rasa suka pertama saya sama kakak kelas SMP saya (yang 3 tahun saya sukai diam-diam)
Pacar pertama saya sepertinya bukan beneran cinta. Hanya suka. Setidaknya dia orang berstatus pacar yang pertama di hidup saya. Hehe.
Dan kalo cinta pertama, mungkin sama yang putus nyambung ini, si Odong. Gatau sih apa namanya, cinta atau bukan. Tapi mungkin iya. Abisnya susah banget lepasnya dulu.

Bukan perkara "siapa yang mutusin" sih sebenernya.
Yang saya sadari, sejak kejadian sama si Sinichi Kudo (Haha, asem..alay ya sebutannya? abisnya beneran ga punya panggilan lain ke dia) saya memutuskan untuk memperbanyak pemakluman.
Dan semacam berjanji tidak akan membuat orang lain kecewa dengan keegoisan saya.
Bukan dalam hal percintaan aja, tapi dalam segala hal.

Yang saya sadari, ternyata banyak hal yang saya korbankan untuk menjaga perasaan orang lain. Banyak hal yang saya korbankan untuk membuat orang lain tidak kecewa dan bangga dengan saya. Termasuk mengorbankan perasaan saya sendiri.
Dan ternyata itu yang terus saya lakukan sampai sekarang :)
Sebenernya cerita tentang kisah percintaan saya hanya sebagai contoh saja, bahwa dalam hal itu pun saya menghindari untuk membuat orang lain kecewa.
Banyak hal lain sebenernya. Keluarga. Lingkungan. Dan segala pilihan yang saya ambil. Sampai sekarang.


Hmmm..udah hampir jam 4 sekarang. Tapi masih belum ngantuk. Jadi lanjut aja ya.



Sebenernya bukan hanya saya tidak mau membuat orang lain kecewa. Saya juga sebenernya menghindari hal-hal yang nantinya akan membuat saya kecewa.
Seperti saat saya SMA, ada orang yang diam-diam saya sukai. Dulu jamannya mig33, kita sempet kenal dan beberapa kali chattingan. Cuma ya gitu, supaya saya ga kecewa.. saya membuat diri saya jadi ga percaya diri. Saya merasa ga mungkin orang itu juga suka sama saya. Jadi waktu dia nanya nomer hape, saya nganggep nya cuma basa-basi sebagai teman chatting. Lagipula emang beneran saya ga punya hape waktu itu. Saya ga mau ngecewain orang tua dan terutama diri saya sendiri kalo sampe saya ga masuk PTN karena keasikan deket sama orang.

Waktu itu pas kelas 3 kalo ga salah. Ada beban tersendiri ketika kita berada di lingkungan orang-orang pintar dan berada.
FYI, sekolah saya waktu itu bukan hanya berisi orang-orang pinter, tapi juga orang-orang berada. Hampir 80% teman sekelas saya ikut bimbingan belajar biar bisa masuk Universitas Idaman. Saya pengen, tapi ga mampu. Karena biaya bimbel waktu itu sangat mahal, bagi saya. Akhirnya saya cuma bisa belajar lebih sering. Saya fotocopy semua buku-buku latian soal punya temen2.  Dan kebetulan saya emang suka. Suka ngisi-ngisi jawaban latian soal. Apalagi soal-soal psikotest macem soal test masuk STAN. Lalu saya meriksa jawaban saya sendiri (dari lembar jawaban yang biasanya ada di bagian belakang buku) dan ngeliat perkembangan nilai saya dari hari ke hari.
Selama 6 bulan saya ngelakuin itu. Temen2 pergi  bimbel, saya pulang ke rumah buat belajar dengan ngisi soal-soal. Buat saya itu cara belajar paling efektif daripada hanya membaca. Kalo ada soal yang ga kita tau jawabannya, otomatis kita akan baca untuk cari jawabannya. Ini trik yang saya lakuin waktu mau test CPNS kemaren. Cuma download aplikasi soal2 di playstore dan ngisi jawabannya. Hehe. Simpel dan gratis.



Yaaahh...balik ke intinya.

Intinya saya makin hebat membuat pemakluman. Biar ga sedih sih sebenernya. Dan biar saya ga gegabah dalam mengambil keputusan.

Karena masih belum ngantuk, saya jelasin rinci yah tentang mantan-mantan saya. Dan dimana pemakluman itu ada. Hehe.

Mantan saya yang ke3, sebut saja Gempa.
Kita cuma pacaran 2 bulan. Dan saya diputusin. HA-HA-HA.
Sebenernya saya tahu gimana dia. Dia baik, ganteng, cuma emang playboy aja sih. Haha. Gimana ga playboy, doi sebenernya mantannya sahabat saya. Dan emang udah dikenal seantero kota kalo dia banyak ngedeketin cewe-cewe. Tapi saya cuek aja. Selama dia masih baik ke saya, saya ga akan minta putus. Pikirku gitu. Dan fyi aja, saya orangnya susah cemburu sebenernya. Kecuali emang mereka pernah ketauan atau ada indikasi selingkuh. Bisa ditanya ko ke mantan-mantan saya kalo saya ga cemburuan. Hhahaha. Pede amat yak.
Jadi mau dia digosipin deketin banyak cewe ya saya ga peduli. Sampe akhirnya saya yang diputusin. Tanpa alesan, Wkwkwkwk.

Mantan saya yang ke-4, sebut saja Country. (Haha, gausa ketawa)
Pacaran juga cuma 2 bulan kayaknya. Kalo yang ini karena salah paham. LDR nanggung sih sebenernya. Doi kuliah di Solo, dan saya masih kelas 2 SMA. Salah pahamnya karena waktu itu saya masih deket sama Cumi. Padahal mah yaelah...emang udah ga ada perasaan apa-apa. Cumi mah uda kayak sodara. Doi juga kenal sama Cumi, temen sekelas malah. Yah, intinya mah cuma salah paham dan saya berhasil diputusin. HA-HA-HA.
Sama yang ini sedikit susah move-on. Makanya saya lama ga pacaran abis sama si Country.

Mantan saya yang ke-5. Haha. Dia mah masih temenan sampe sekarang. Masih baik. Sebut saja Pak Dok.
Doi calon dokter soalnya waktu itu. Sekarang sih udah jadi dokter beneran.
Kalo diibaratin, sebenernya yang sampe sekarang beneran saya anggep mantan ya Pak Dok sama si Odong aja. Bukan karena yg lain ga saya anggep sih. Masalahnya sama mereka berdua pacarannya bisa lebih dari 4 bulan. Hehe. Jadi beneran kenal. Sama Cumi juga sih, kalo ditotal putus nyambungnya bisa lebih dari 4 bulan, tapi Cumi terlanjur saya anggep sodara.. bukan mantan!
Sama Pak Dok gausah diceritain lah ya kenapa putusnya. Hehe. Salah saya sih kayaknya. Haha. Mana ada pacar yang suka dicuekin. Padahal kita LDR, kali ini LDR yang benar benar Loooong. Doi di Jakarta, saya di Solo. Ketemu selama pacaran ga nyampe 10x.
Yaah..intinya saya diputusin lagi. HA-HA-HA.

Mantan saya yang ke-6 seharusnya si Odong. Tapi karena sempet diselingin pacaran sama yang ini, jadi anggaplah yang ke-6 itu adalah si Adek. Hahaha. Asal banget yak gue namainnya? Maap. Doi emang adek tingkat sih. Sama si Adek pacaran 4 bulan kalo ga salah. Rada lupa.
Sebulan terakhir sebelum doi minta putus sebenernya uda mulai ada gelagat aneh sih. Tapi lagi-lagi pemakluman. Saya mah positif thinking aja. Kalo saya minta putus juga takutnya ngecewain. Jadi akhirnya saya yang dia putusin. HA-HA-HA. Alesannya juga ga jelas. Tapi yaudah, lumayan cepet kog move on nya.


Nah, mantan saya yang ke-7...yang daritadi uda disebut-sebut. Udah sering juga dibahas di blog ini. Bahkan blog ini duluuu saya buat waktu pas saya masih sama dia. Dan isinya masih banyak tentang doi. Saya ga mau ngejelasin secara rinci tentang hubungan saya dengan dia, toh kita sekarang uda punya kehidupan masing-masing. Yang jelas dia lumayan lama ada di hidup saya. Saya ga pernah mau diputusin sama dia kalo dia lagi kumat minta putus. Karena ujung-ujungnya pasti minta balikan kalo saya deket sama cowo lain. Gitu aja terus sampe lebaran kelinci. Bahkan sampe saya pacaran sama mantan terakhir saya, dia pernah berusaha masuk lagi ke hidup saya.
Pemakluman apa yang ada di hubungan ini?
Ya, saya selalu memaklumi dia saat dia minta kembali. Saya selalu mau. Kecuali saat saya uda punya pacar ya.
Saya selalu memaklumi dan percaya dia. Setidaknya dia ga pernah selingkuh ketika kita sama-sama. Gatau sih kalo pas putus, kan bebas dia mau deketin siapa aja. Ya, saya selalu memaafkan dia. Bahkan saya uda maafin meski dia ga minta maaf.

Oke, the last. Mantan terakhir saya yang juga adalah suami saya. Hehe.
Dia satu-satunya orang yang ga pernah minta putus ketika saya udah melakukan kesalahan (selain mantan pertama saya sih, kan saya yg mutusin. Hehe) .
Kesalahannya apa? You know lah....hehe. Eh gatau ya? Clue nya kan ada diatas. Iya, dulu saya hampir ingin kembali ke si Odong. Hmmm.. 2x malah. Plus ada 1x deket sm orang lain. Tapi si suami ga pernah minta putus. Marah besar aja.
Jadi waktu dia melakukan kesalahan, yang cukup besar. Besar banget malah. Reaksi pemakluman saya langsung menjadi pemenang. Saya maafin dia juga dan ga minta putus.
Korban perasaan? pasti iya. Mungkin kamu juga, kalo jadi saya. Tapi mau gimana, semua orang pasti pernah salah. Tinggal kitanya aja, bisa iklas maafin atau engga. Dan saya memilih untuk memakluminya.


Ya, beberapa jam lalu saya sadar satu hal.
Saya terlalu banyak membuat pemakluman. Saya terlalu cuek. Saya pikir gapapa hati saya sakit, orang lain jangan.
Tapi sebenernya itu ga baik.
Rasanya tadi saya muak sama semua yang pernah saya alami. Sama semua pilihan yang pernah saya pilih.
Bukan berarti saya menyesali pilihan saya, hanya sedikit...hmmm...tau kan rasanya? Ingin sedikit meledak kalo mengingat semua yang pernah saya laluin.
Harusnya saya bisa sedikit jahat.
Walopun sebenernya saya udah jadi jahat bagi sebagian orang.
Tapi sumpah, saya ga pernah bermaksud. Saya maunya jahat sama diri sendiri aja, Yang lain gausah dijahatin. Tapi ternyata capek yah, jahat sama diri sendiri.


Sepertinya saya harus mulai menjaga perasaan diri saya sendiri. Jangan perasaan orang lain aja, kamu bukan hansip chi. Mulai pelan-pelan lakuin apa yang kata hati kamu bilang.
Ini berlaku bukan buat percintaan ya, tadi itu mah kan contoh aja.
Tapi buat kehidupan sehari-hari.

Kalo kata Sujiwo Tedjo mah, "Kalo sampai umur kamu 35 tahun dan masih belum melakukan apa yang benar-benar kamu inginkan, definisikanlah kembali hidupmu"
HA-HA-HA. Okesip, masih ada 8 tahun lagi.
Eh tapi itu td kata-kata diatas beneran kata Sujiwo Tedjo bukan yah? Ah, anggap lah iya, kalo bukan..berarti kata saya.
Hehehehe.



Baiklaaah...sekarang udah jam 5. Fiuuuuuhhh...... 3 jam yah cuma buat nulis ginian doang.
Yah, semoga 2 jam lagi mata masih bisa diajak berangkat ke kantor. hehe.


Cemungudh kakak!!!!