Apa itu menikah?
Tulisan saya kali ini tidak semata-mata menggambarkan apa yang terjadi di kehidupan saya, melainkan sebuah opini yang saya bentuk setelah mendengar banyak cerita dan kisah baik secara langsung maupun dari media yang semakin merajalela saat ini.
Ya, sekali lagi... apa itu menikah?
Satu lagi, untuk kali ini saya tidak membahas dari segi agama. Karena sudah pasti itu adalah salah satu kewajiban bagi umat manusia. Agama apapun itu pasti menganjurkannya.
Yang saya tanyakan apa itu menikah?
Bagi manusia?
Menghindari dosa, menghalalkan cinta, mendapatkan keturunan dsb masuk kategori agama. Selebihnya?
Pernahkah kalian berpikir, siapa orang yang kalian nikahi?
Apa benar2 merekalah kembaran jiwa kalian?
Sudahkah kalian merasa jujur dengan mereka?
Atau sudahkah mereka jujur dengan kalian?
Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan kalian apakah sudah berada di tangan yang yang kalian pikir jodoh kalian?
Mungkin untuk mengetahui itu semua lah kalian menikah.
Ya, itu salah satunya alasan kalian menikah.
Mungkin.
Yang pasti dan yang seharusnya adalah:
Menikah bukanlah sekedar bersama.
Menikah adalah menyatukan dua jiwa.
Yang saya tangkap.
Belum semua orang menikah dengan pasangan jiwa mereka.
Kalau mau dilihat secara sekilas, sebenarnya terlihat mana yang benar-benar bahagia dan mana yang hanya sekedar bersama.
Contoh di kehidupan publik figur:
Alm. Sophan Sofyan dan Widyawati
Glen Alinski dan Chelsea Olivia
Bukan karna mereka mesra di publik lantas saya berkata seperti itu. Toh menurut saya Alm.Sophan Sofyan dan Ibu Widyawati tidak se-sweet pasangan Glen dan Chelsea. Tapi mereka memang terlihat seperti dilahirkan untuk bersama.
Ya, banyak manusia pura-pura merasa bahagia. Dengan apa yang telah mereka jalani.
Karena memang mereka tidak tahu harus bagaimana lagi.
Banyak yang sudah "terlanjur" menikah tapi sebenarnya merasa tidak cocok dan akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jika ego yang menang, banyak hati yang akan tersakiti.
Sekali lagi, jika disangkutkan dengan agama.. Tuhan tidak pernah menyukai perpisahan.
Bertahan memang merupakan satu-satunya cara.
Cara lainnya adalah, meyakinkan diri kalian bahwa memang merekalah pasangan jiwa kalian.
Menurut saya sedikit simpel sebenarnya untuk mengetahui apa benar pasangan kita adalah belahan jiwa kita.
Yang pertama:
Apa kalian tahu masa lalu pasangan kalian?
Ini cukup penting. Jangan karena skeptis menganggap itu hanya masa lalu lantas menjadi tidak penting. Jangan sampai masa lalu menjadi satu-satunya hal yang tidak kita miliki dari pasangan kita. Sepahit apapun masa lalu, sekedar tahu bukanlah masalah besar. Karena dari situ kita belajar tentang siapa pasangan kita saat ini.
Yang kedua:
Apakah kalian setiap hari, masih merasa ingin tahu apa yang "dirasakan" pasangan kalian? Bukan sekedar apa yang dikerjakan.
Ini penting. Sekali lagi, karena seharusnya menikah bukanlah sekedar bersama. Menikahlah dengan jiwa dan keinginan pasangan kita juga. Tidak selalu setiap saat harus dituruti. Minimal kita tahu apa yang dirasakan dan diinginkan.
Bukankah memang itu inti komunikasi?
Yang ketiga:
Apakah benar-benar she/he is the only one? Apakah perasaan dengan orang lain selain pasangan kalian benar-benar tidak ada atau sudah "selesai"?
Atau jika memang belum selesai atau jika terkadang hadir pemikiran tentang orang baru, apakah kalian merasa bersalah dengan pasangan kalian?
Jika kalian masih merasa bersalah mungkin itu memang hanya "selingan" sementara.
Jadi, tanyakan setiap saat ke dalam diri kita, apakah benar she/he is the one?
Itu menjadi penting karena segala sesuatu yang terjadi di pikiran kita semuanya berasal dari hati.
Ketika ketiga hal diatas dijawab tegas dengan jawaban : Ya
Maka saat itu juga kalian bisa yakin bahwa pasangan kalian adalah belahan jiwa kalian.
Bahwa definisi jodoh memang seperti yang dikatakan orang-orang :
Jodoh adalah orang yang kalian nikahi.
Berbahagialah.
Tapi jika jawabannya "belum"
Maka kalian masih bisa sedikit lega karena "belum" bisa jadi berubah menjadi "sudah" atau "ya"
Yang diperlukan hanyalah waktu dan saling mengenal lagi lebih dalam.
Kalian masih punya kesempatan untuk meyakinkan diri kalian bahwa merekalah sebagian jiwa kalian.
Lalu bagaimana jika jawabannya "tidak" ?
Ya, sekali lagi ini semua tentang pilihan.
1. Tetap bertahan
2. Pergi
Keduanya sama-sama memiliki konsekuensi.
Tetap bertahan dan pura-pura bahagia akan membuat semua orang bahagia, kecuali kita.
Dengan pergi, mungkin kita bisa menemukan kebahagiaan yang selama ini kita pikirkan. Tapi konsekuensinya adalah mengorbankan kebahagiaan orang-orang yang menyayangi kita.
Akan terasa ironis ketika kalian atau pasangan kalian tidak jujur dengan apa yang dirasakan.
Lantas? Seumur hidup penuh dengan ke-pura-pura an?
Apa kalian akan nyaman dengan hal itu?
Yah, akan sangat menyedihkan jika mereka yang kalian pikir pasangan hidup kalian justru orang yang paling tidak tahu apa apa tentang kalian. Tidak tahu apa yang kalian inginkan.
Jadi sekali lagi..
Pernikahan itu seharusnya...
Bisa saling bercerita di malam hari tentang apa yang dikerjakan seharian.. tentang apa yang dirasakan seharian..
Bisa saling tahu apa yang benar-benar diinginkan, bahkan tanpa harus dikatakan..
Bisa saling memeluk semalaman meski dalam diam.. hanya untuk sekedar merasa nyaman..
Bisa mencium dengan lembut tanpa tahu bahwa waktu sedang berjalan..
Bisa merasa bahwa seandainya waktu bisa berhenti disaat sedang berdua..
Dan yang pasti..
Bisa bebas menertawakan masa lalu dan merancang masa depan di waktu yang bersamaan..
( terinspirasi ketika tanggal 30 Nov 2016 kemaren dan diterbitkan pada tanggal 4 Des 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar