Seminggu terakhir ini Indonesia dikejutkan dengan 2 kasus besar mengenai dugaan bunuh diri.
Yang pertama adalah Chester, vokalis Linkin Park yang benar-benar cukup menghebohkan dunia. Dan yang kedua adalah Oka Mahendra Putra.
Yang kedua ini sebenarnya memang bukan public figur. Tapi hubungannya di masa lalu yang notabene adalah mantan pacar dari Karin Novilda alias Awkarin cukup membuat dia terkenal.
Selebgram kontoversial ini membuat berita tentang kematian Oka menjadi lebih banyak dicari di seluruh media sosial.
Selain mantan pacar dari Awkarin, Alm Oka juga merupakan CEO dari Takis Entertaiment yang juga merupakan agensi yang kemaren sempat menaungi Awkarin.
Yang mau saya bahas disini adalah latar belakang yang menyebabkan kedua nama diatas meninggal dunia.
Depresi.
Ya, depresi.
Kalo kalian searching berita tentang keputusan Chester buat gantung diri, kalian pasti nemuin banyak artikel mengenai dugaan alasan kenapa dia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Pada umur 11 taun orang tuanya bercerai dan dia mengalami pelecehan seksual. Dia sempat ketergantungan narkoba dan pecandu alkohol. Dua bulan sebelum dia mutusin bunuh diri, sahabatnya juga bunuh diri.
Kita ga pernah tau apa yang dihadapi seseorang sampe dia mutusin untuk melakukan hal itu. Dilihat dari ceritanya saja saya uda bisa bayangin gimana kerasnya kehidupan dia dulu.
Meskipun dia terkenal, punya banyak penggemar, punya banyak teman (mungkin), kita ga pernah tau masalah apalagi yang dia hadapi saat ini. Entah benar atau engga, menurut saya orang yang pernah menerima hal buruk di masa lalu bisa menjadi "sangat sesuatu" ketika mengalami depresi lagi. Bisa jadi "sangat" kuat menghadapi masalah berat yang baru, atau bisa "sangat" jatuh ketika mengalaminya lagi.
Dan mungkin traumatis Chester di masa lalu membuat depresinya yang baru saat ini menjadi lebih parah hingga dia memutuskan untuk bunuh diri. We never know it. Kita ga pernah tau apa yg dia rasain.
Kasus kedua mengenai Oka Mahendra Putra. Sampe saat ini saya searching beritanya, saya masih belum yakin apa penyebab sebenarnya Oka meninggal. Ada yang bilang bunuh diri karena minum sianida, dan ada juga yg bilang meninggal karena tubuhnya sudah ga tahan lagi dengan depresi yang dia alami.
Entah gimana saya lebih percaya dengan yang kedua.
Walaupun penyebab yang pertama juga tentu saja disebabkan karena depresi.
Tapi apa penyebab Oka bisa depresi?
Itu yang sampai saat ini ramai dibicarakan.
Latar belakang keluarga Oka cukup baik. Dia bukan dari keluarga broken home, keluarganya pun cukup berada, bahkan mungkin kaya. Dia juga sempat kuliah di luar negeri, dan itupun cukup mengagumkan buat saya.
Spekulasi mulai bermunculan di sosial media.
Awkarin, sebagai mantan pacarnya mengeluarkan statement seolah olah Oka depresi karena Takis collapse dan hubungannya yang buruk dengan mantan karyawan maupun partnernya di Takis, Young Lex.
Saat awkarin berstatment seperti itu, netizen langsung memburu Young Lex dengan kata-kata cacian seperti pembunuh dan semacamnya.
Begitu mudahnya media terpancing akan satu statement yang kita sendiri masih belum yakin kebenarannya.
Sesaat setelah Karin mengeluarkan statement tersebut, mucul teman-teman Oka yang mengeluarkan statement sebaliknya. Bahwa Karin lah penyebab depresi Oka yang utama.
Bahkan teman-teman Oka di Seattle mulai mengeluarkan statement yang sama.
Dari semua berita yang saya baca, saya melihat bahwa sebenarnya Oka adalah orang yang cerdas. Dia punya banyak teman. Dan memang pintar mengelola bisnis.
Mungkin kita ga akan pernah tau apa yang benar-benar dirasain Oka. Entah karena collapse, Karin, ataupun Young Lex. Yang pasti dia pernah menjadi korban bullying di media sosial ketika Takis mulai bangkrut dan Karin mengeluarkan statement yang menyudutkan dia.
Logika depresi dari 2 cerita diatas cukup jauh berbeda.
Chester mengalami depresi sejak kecil.
Dan Oka sepertinya baru-baru saja mengalami depresi, namun mungkin sangat buruk.
Mental setiap orang ketika menerima masalah berbeda-beda menyikapinya. Ada yang cukup kuat bertahan, dan ada yang akhirnya terjatuh.
Apapun itu, depresi merupakan masalah yang cukup krusial saat ini.
Saya pernah baca entah penelitian mana, 1 dari 4 orang pernah mengalami depresi. Mungkin saya juga pernah ngerasain hal seperti itu. Saat dimana saya cukup muak dengan masalah yang menimpa saya. Tiba-tiba ingin menangis dan hanya ingin berdiam sendiri di kamar.
Tapi saya rasa itu masih berada dalam tahap yang wajar.
Ada salah satu teman saya yang mengalami depresi sedikit parah ketika masih kecil. Keluarganya masih utuh, namun sangat tidak harmonis. Dia sama sekali tidak pernah merasakan kebahagian keluarga yang harusnya dirasakan anak seusianya. Hingga akhirnya dia memutuskan menyakiti dirinya sendiri dengan menyilet-nyilet tangannya dan melukai bagian bagian tubuhnya yang lain.
Ketika itu dia masih SD.
Bisa dibayangin, anak sekecil itu sudah bisa melakukan hal yang seperti itu.
Depresi sama sekali bukan masalah sepele.
Cukup empati.
Itu yang dibutuhin.
Kita ga bisa asal menjudge keputusan seseorang tanpa tau latar belakangnya. Bahkan jika kita tau latar belakangnya pun, kita ga benar-benar tau apa yang dia rasain.
Stop kasih bad comment tentang keputusan mereka. Itu aja.
Cukup berpegang pada satu hal :
"lakukan apa yang ingin orang lakukan ke anda"